Perpustakaan Kemenkeu di Gedung A.A. Maramis, Merawat Sejarah dan Membangun Pengetahuan

Jakarta, 2 November 2026 — Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, meresmikan Perpustakaan Kementerian Keuangan yang berlokasi di Gedung A.A. Maramis, Jakarta, pada Jumat (30/10). Peresmian ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) ke-80 sekaligus menandai upaya Kementerian Keuangan dalam memperkuat budaya literasi dan pengembangan pengetahuan.

Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menyampaikan dalam konsolidasi perpustakaan Kementerian Keuangan kedepan dilakukan melalui tiga langkah utama, yaitu mengintegrasikan koleksi fisik yang telah dimiliki dan yang dari masa lalu, mendigitalisasi koleksi tersebut, serta mengkurasi informasi dan dokumen yang tersebar di ruang digital.

“Melalui langkah ini, perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar dan akses pengetahuan yang lebih luas bagi pegawai maupun masyarakat umum,” kata Menteri Keuangan.

Menteri Keuangan juga menyampaikan empat arahan bagi pengelola perpustakaan. Pertama, menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang hidup dan dinamis melalui berbagai aktivitas intelektual, seperti diskusi, pembelajaran, pengembangan kompetensi, hingga ruang kontemplasi. Menurutnya, perpustakaan tidak cukup hanya ditata dengan tampilan fisik yang menarik, tetapi juga harus menjadi ruang yang aktif mendorong pertukaran gagasan dan pengembangan wawasan.

“Kita renovasi ruangan ini dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan cagar budaya yang baik. Namun, bukan hanya cantik secara fisik, tapi ramai secara intelektual. Tempat Kementerian Keuangan memperluas wawasan, memperdalam kompetensi, menjadi ruang kontemplasi, menjadi tempat berdiskusi dan sebagainya.”

Kedua, menyajikan pengetahuan melalui visualisasi yang menarik, informatif, dan mudah dipahami. Untuk mendukung hal tersebut, koleksi dan informasi perlu dikurasi agar relevan, memiliki nilai tambah, serta dapat membantu pengunjung memahami pengetahuan yang disajikan.

Ketiga, mengoptimalkan pemanfaatan teknologi untuk memperluas akses terhadap pengetahuan. Digitalisasi diharapkan memudahkan masyarakat menemukan dan mengakses koleksi perpustakaan, sekaligus memperluas jangkauan layanan tanpa mengesampingkan pemeliharaan koleksi fisik.

Keempat, membangun budaya berbagi pengetahuan. Pengetahuan memiliki keistimewaan karena tidak akan berkurang ketika dibagikan kepada orang lain. Sebaliknya, berbagi pengetahuan justru memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas bersama sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi organisasi.

Kehadiran Perpustakaan Kementerian Keuangan di Gedung A.A. Maramis juga menghadirkan keterkaitan antara ruang bersejarah dan upaya membangun pengetahuan. Pemanfaatannya sebagai perpustakaan menjadi wujud kesinambungan antara pelestarian warisan sejarah dan pengembangan pengetahuan bagi generasi masa kini.

Pemanfaatan gedung sebagai perpustakaan juga memperlihatkan bahwa optimalisasi aset negara tidak hanya berorientasi pada nilai finansial, tetapi juga mencakup penciptaan nilai sosial, budaya, dan edukasi. Melalui pemanfaatan yang tepat, aset bersejarah dapat terus memiliki fungsi yang relevan, menjadi ruang pertukaran pengetahuan, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi institusi dan masyarakat.

Perpustakaan Kementerian Keuangan di Gedung A.A. Maramis pada akhirnya bukan sekadar ruang untuk menyimpan buku dan dokumen, melainkan juga ruang untuk merawat rekam jejak pemikiran, mempelajari perjalanan pengelolaan keuangan negara, dan membangun pengetahuan bagi masa depan. Di tengah bangunan yang sarat sejarah, pengetahuan terus tumbuh dan diwariskan, menjadikan warisan masa lalu tetap hidup dan bermakna bagi generasi mendatang.